Thursday, December 04, 2014

"Keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama...."


Entah sesuatu apa atau sensasi yang bagaimana atau karakter seperti apa yang membuat si keledai gagal menerapkan prinsip terkenal temannya itu. Kata-kata sakti yang hampir selalu diandalkan oleh tiap generasi untuk memotivasi penerusnya. Oh... dan memotivasi diri sendiri juga tentunya, toh masih banyak lubang lain tersebar siap menjebak. Motivasi yang salah tapi cukup realistis lah ya.

Si keledai sudah pernah jatuh di lubang itu, dua-tiga kali, atau mungkin lebih. Beberapa memar masih terlihat, bahkan ada yang membekas. Ini yang terakhir, katanya. Berbagai macam antisipasi dimantapkan dalam pikiran. Beberapa pilihan dipikirkan. Jatuh di lubang yang sama bahkan tidak ada di urutan terakhir. Si keledai menjadi egois, keselamatannya nomor satu.

Ada satu masa dimana antisipasi berlapis akhirnya runtuh oleh ekspektasi yang semakin hari semakin terlihat meyakinkan. Lubangnya sudah ditutup, pikirnya. Antisipasi minim. Prioritas tak lagi egosentris. Rasanya lepas dan bebas. Momen yang tepat untuk kemudian dia hening dan tersadar. Ruang geraknya terbatas. Gelap.

Kok.....rasanya deja vu ya?





"Yaelah mit, lagu lama lo. Udah tau lampu kuning lampu merah, masih aja dikencengin" - Sahabat, status obral butuh pendamping, paling bisa nyinyir gak peduli sikon. Thanks. Sekian

No comments: